“Dan telah mendengar akan Kalam Allah yang Qadim [yang bukan huruf, suara dan bahasa] pula Sayyiduna Muhammad (Shallallahu ‘alayhi wa sallam) di malam peristiwa Isra’ Mikraj, dan tanpa Allah berada pada tempat, dan tanpa arah, tetapi tempat adalah bagi pendengar [yakni Rasulullah] yang baharu.
Allah ada tanpa bagaimana, tanpa tempat dan arah seperti keberadaan Allah tak dapat digambarkan akal fikiran 6. Benar apa yang disabdakan Rosululloh sholla Allahu 'alaihi wa sallam
Seandainya keutamaan itu semata-mata dengan tempat dan arah maka tentu nabi Muhammad lebih dekat -dari segi jarak- kepada Allah daripada nabi Yunus, dan tentunya Rasulullah tidak akan melarang kita melebih-lebihkan beliau di atas nabi Yunus. Kemudian al Imam Nashiruddin. menjelaskan bahwa keutamaan itu adalah dengan derajat, bukan dengan tempat.
Seperti yang kita tahu bahwa Allah ada tanpa membutuhkan tempat dan arah. Ia ada, tetapi keberadaannya tidak di atas ‘arsy, tidak di langit, tidak di atas, di bawah, di kanan, di kiri, di depan ataupun di belakang. Ia ada tapi keberadaannya tidak dapat dibayangkan sama sekali. Ia tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan apa pun dan siapa
Dan Dia tidak boleh disifati dengan sesuatupun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman).
Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." (2Tim.3:16-17) "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibr.11:6)
JIuW1.
allah ada tanpa tempat dan arah